• JL BATHIN KUNDANG NO 28
  • desa.sebongpereh@gmail.com

Sejarah Desa Sebong Pereh

26 Agustus 2016 admin Dibaca 1.116 Kali

       Desa Sebong Pereh adalah salah satu Desa di Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan dengan luas ± 30,80 km2, berada di ketinggian 20 m diatas permukaan laut, dengan suhu 18° c  s/d 22° c dan curah hujan mencapai 1.200 mm/tahun dengan intensitas maksimum curah hujan selama 75 hari dalam setahun.

           Asal usul nama Desa Sebong Pereh

           Pada zaman Belanda sekitar tahun 1897, yaitu di hulu Sungai Pereh di bangunlah satu perkampungan perpindahan dari kampung bulunan. Di pinggir sungai pertengahan saat sekarang ini diantara Desa Kuala Sempang dan Desa Sebong Pereh disitulah pada saat dahulu disebut Kampung Buluan. Perkampungan tersebut dihuni oleh Suku Melayu dan Suku Cina, yang pada saat itu kepala keluarga berjumlah 40 kepala keluarga serta perkampungan tersebut diberi nama Kampung Pereh yang diambil dari nama sungai yang terdapat di daerah itu. Pada tahun1901 oleh Pemerintah Belanda pada waktu itu di tunjukan seorang Bathin, dari Suku Melayu yang bernama "Kundang" untuk mewakili Belanda dari Kampung tersebut, Bathin jika pada saat ini disebut Kepala Desa.

          Di sebelah utara Kampung ini, sekitar 5 km terdapat pesisir pantai yang di diami oleh Suku Laut (orang sampan) yang rata-rata mereka dari Senayan yang datangnya musiman, apabila musim utara mereka kembali ke asalnya dan jika musim timur, selatan dan barat mereka datang lagi. Di pinggir pantai ini terdapat beberapa kepala keluarga Suku Cina dan ada juga pendatang dari Suku Melayu dari Malaya (Malaysia) oleh sebab itu nama-nama yang terdapat pada peta kesemuanya nama Cina seperti: A'ang, Lim Kau Jie, Botah, Plangke dan lain sebagainya.

          Pada tahun 1809 mereka yang ada di perkampungan pesisir pantai menunjuk seorang ketua yang bernama "Sebong" diangkat menjadi Tok Juru yang disebut juga sebagai ketua suku. Pada tahun 1918 Tok Juru Sebong meninggal dunia kemudian diganti dengan Tok Juru Wahid sampai dengan tahun 1924, kemudian Tok Juru Wahid meninggal diganti dengan Tok Juru Munsang. Oleh karena mulai berdatangan pendatang dari luar dan untuk membuat nama kampung, maka dengan kebijaksanaan Tok Juru Munsang maka di ambil lah nama "Tok Juru Sebong" sebagai nama Kampung di pesisir pantai.

       Pada tahun 1944 Bathin Kundang meninggal dunia diganti dengan Bathin Paw sampai dengan tahun 1946, Bathin Paw meninggal diganti lagi dengan Bathin Gagak yang berasal dari wakil Kampung Sebong. Maka mulailah warga Kampung Pereh turun ke laut untuk membuka kebun baru, diantaranya kebun kelapa dan karet. Pada saat itulah kedua nama Kampung disatukan menjadi satu nama Desa yaitu DESA SEBONG PEREH. Pada tahun 1948 Pusat Pemerintah Desa dipindahkan ke pantai mengingat warga Kampung Pereh sudah banyak turun ke pantai. Kemudian dilanjutkan lagi dengan penggantian Bathin Gagak diganti dengan Bathin Tembek. Pada tahun 1957 Bathin Tembek diganti dengan "Kepal" yang bergelar Penghulu. Pada tahun 1968 Penghulu Kepal diganti dengan "Muhammad Sulung" yang diberi gelar Kepala Kampung dan pada tahun 1971 "Muhammad Sulung" diganti dengan "Abdul Djalil" bergelar Kepala Desa, masa kepemimpinan beliau sampai dengan tahun 2010 dan diganti dengan "Drs. La Anip" sampai dengan sekarang ini.

          Demikian selayang pandang atau sejarah singkat Desa Sebong Pereh yang di telusuri dari cerita orang tua asli turun termurun yang ada di Desa Sebong Pereh yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat media sosial, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

Komentar untuk artikel ini telah ditutup.